Sunday, December 24, 2006
Moving To Multiply


I'm moving to Multiply..
but i won't tell you the address of the site. Hehehe..

See you when I see you!



likamaniz @ 11:08 pm
Comments (8)
Sunday, November 19, 2006
Inappropriate question


 

Kemarin malem Lika nonton salah satu acara talkshow yang cukup terkemuka yang ditayangkan di Anteve. Om Farhan nama acaranya. Terkenal karena acara ini dipandu oleh presenter nomor satu di Indonesia yang bukan hanya cerdas tapi juga menghibur. Ditayangkan agak larut malam karena topik yang diangkat kadang-kadang sedikit ‘nakal.’

 

Tapi tadi malem, sepertinya nakalnya Om Farhan (merujuk pada program, bukan nama presenternya) agak kelewatan. Jadi ceritanya, salah satu bintang tamu yang diundang malam itu adalah Rissa Susmex (what a dirty name! huhu. Dan sampe sekarang saya ngga tau dia tuh artis apaan). Jeng Rissa ini diminta membacakan sebuah berita tentang pameran erotika di Ceko. Setelah selesai baca berita, tiba-tiba.. Pet! Lampu studio dimatikan. Tapi ada satu lampu sorot yang mengarah ke Rissa. Jadi di seluruh area panggung, yang bisa terlihat jelas oleh penonton hanya Rissa.

 

Lalu ada suara menggema entah dari mana. Dari tipe suaranya, sepertinya sih itu bukan suara Farhan sang presenter. Mungkin suara narator, atau crew lainnya. Kemudian suara bariton itu bertanya kepada Rissa, “Rissa, jawab. Apakah kamu masih perawan??”

 

Wajah Rissa keliatan kaget. Lika yang cuma nonton pun ikutan kaget. Tapi Lika pikir, ah mungkin ini cuman teaser doang kali ya. Maybe this will lead to a joke or something like that. Tapi setelah beberapa lama, ketika yang ditanya hanya bisa tertawa grogi, suara ‘misterius’ itu malah mendesak, “Ayo! Jawab! Apakah kamu masih perawan?” Sementara itu si bintang tamu sepertinya masih bingung mau jawab apa, sampai akhirnya dia bilang, “Keliatannya gimana?”

Si suara menjawab, “Kalo dilihat dari penampilan sih,, sepertinya,,,,”

 

Rissa masih tertawa grogi, dan setelah beberapa detik yang terasa lama, akhirnya menjawab, “Ya masih dong”. Tapi jawaban itu sedikit tertutup oleh suara narator, dan sepertinya mas naratornya ngga denger, karena kemudian dia maksa lagi, “Ayo! Jawab!”. Lalu Rissa, masih sambil tertawa terpaksa, bilang, “Kan tadi udah dijawab.”

 

Akhirnya lampu panggung nyala kembali. Suara menyebalkan itu pun  hilang. Oh Thank God! That was really awkward. Setelah lampu nyala, orang-orang lain di panggung (Farhan, Melly Zamri, Aline) langsung melanjutkan acara dan menganggap segmen ‘apakah kamu perawan’ tadi tidak pernah ada.

 

****

 

“Apakah kamu masih perawan?”

Is that an appropriate question?

Menurut Lika, itu adalah salah satu masalah yang paling pribadi yang ngga bisa seenaknya aja ditanyain. Sama kayak pertanyaan reporter gosip ke artis pengantin  baru, “Gimana malam pertamanya?”

Really? Do you have to ask that?

 

Kalo kamu nanya hal-hal di atas ke sahabat kamu atau ke orang yang emang deket sama kamu, ya oke-oke aja lah. But this is national television! Dan pertanyaan ‘Apakah kamu masih perawan’ tadi sama sekali ngga kontekstual sama topik bahasan malam itu karena di episode kemarin malam mereka lagi ngebahas masalah George Bush datang ke Bogor!

 

Di salah satu episode Oprah Show (yang tayang di negara liberal dimana sex dan virginity udah jadi pembicaraan terbuka), Oprah pernah nanya ke tamunya, “Apakah Anda berhubungan sex dengan suami Anda?” Tapi sebelumnya, dia menambahkan dulu, “Maaf, ini pertanyaan pribadi dan kalau Anda tidak mau jawab, then don’t.” Dan dia ngga nanya ini out of nowhere, melainkan emang kontekstual, karena suami si tamu adalah pemerkosa anak laki-laki. Jadi wajar kalo Oprah ingin tahu apakah sang suami tetap berhubungan dengan istrinya meskipun sepertinya dia lebih tertarik secara seksual kepada laki-laki.

 

Dan yang patut digarisbawahi, Oprah ngga memaksa tamunya untuk menjawab. Sedangkan di acara talkshow kemarin malam, si penanya yang entah siapa itu berkali-kali mengatakan, “Ayo! Jawab!” seolah-olah dia sedang mengadili maling yang berkewajiban untuk menjawab pada pertanyaan ‘apakah kamu yang mencuri ayam ini’.

 

Lagipula, apa pentingnya penonton mengetahui apakah Rissa Susmex masih perawan atau ngga? Toh malam itu topiknya bukan tentang virginity. Dan kalaupun para crew acara itu ‘mencurigai’ Rissa udah bukan perawan lagi, apakah dia harus dibuat mengaku di acara televisi nasional yang ditonton oleh jutaan orang termasuk oleh keluarganya sendiri??

 

Anyway, saya ngga sempat nonton acara itu sampai habis karena saat lampu panggung menyala lagi dan ‘interogasi’ itu berakhir, saya langsung pindah nonton channel lain. Rasa kaget saya sudah hilang, berganti kesal. Kok sampe segitunya ya, usaha buat ngorek kehidupan pribadi orang laen.. 

 

 

Photo courtesy of http://www1.istockphoto.com




likamaniz @ 11:20 pm
Comments (16)
Friday, November 03, 2006
No-Cat Woman


I'M AFRAID OF CATS.

Si Lika takut kucing.

Bukan takut 'ngeri' kayak takut hantu, misalnya. Atau takut sama orang yang nodongin pistol ke arah kamu. Bukan..

Ini lebih ke takut yang "dear kitty kitty, you're so cute but don't touch me and don't go near me"

I don't mind being in the same room with a cat, as long as it minds its own business. Don't play around with me, don't walk around my foot. Because whenever I feel a touch of a cat's fur, I'd totally freak out.

 

Kalau lagi berkunjung ke rumah seseorang yang punya kucing (termasuk nenek saya, yang punya kucing sekitar 15 taun yg lalu), saya selalu mengangkat kaki ke atas kursi, supaya kalo si kucing lewat ke bawah kursi yang sedang saya duduki, dia ngga akan nyentuh kaki saya. Sama halnya saat saya lagi makan di kaki lima, yang mana banyak kucing berkeliaran. Kalo memungkinkan, saya akan duduk sambil bersila. Kedua kaki terlipat di atas kursi. Atau bangku kayu. Kalo lagi banyak orang dan takut dianggap kurang sopan, saya hanya bisa mengandalkan insting untuk mengangkat kaki tinggi-tinggi saat terasa ada kucing yang mendekati.

 

Menjelang Lebaran kemarin, sesuatu yang mengerikan terjadi. Jreng jreenggggg!!! (theme song film horor)

Kakak tiri saya  yang mau mudik dan mengosongkan rumah selama Lebaran, menitipkan kucing piaraannya di rumah saya selama seminggu. This is a good news for my brother, because he loves cats. But a horrifying news for me. Dan yang lebih parahnya lagi, si kucing yang dikasih nama Buntal ini hiperaktif sekali. Setiap liat benda yang bergerak (well, practically setiap benda yang ada di atas lantai), dia langsung main gulat-gulatan sama benda itu. This goes for everything, from pillow to a man's foot. Si Buntal selalu 'mencakar' dan bergelayut dan main gulat-gulatan sama kaki setiap orang yang lewat di dekat dia.

 

Kebiasaannya yang lain adalah hobby gigit. She would bite anything, dari kaki meja sampai jempol manusia. Emang ngga sakit sih, katanya,,, Tapi bayangkan kamu jadi Lika. Kegesek bulu kucing aja takut setengah mati, apalagi digigit! Hasilnya? Selama seminggu itu, bisa dihitung dengan jari berapa kali Lika menginjakkan kaki ke dalam rumah. My own house. Saya selalu masuk dari pintu garasi, langsung naik ke kamar (tangga ke atas ada di luar, sedangkan si kucing adanya di dalem rumah dan ngga pernah dibiarkan ke luar, takut kabur). Mandi, makan, melakukan segala macem, di atas. Kalo mau turun ke bawah, ke bagian utama rumah, saya harus minta orang untuk 'mengalihkan perhatian' si kucing, atau mengunci si kucing di suatu ruangan, sampai saya keluar lagi. Soalnya kalo ngga kayak gitu, binatang berbulu itu pasti ngejar-ngejar kaki saya, dan diakhiri dengan saya lari-lari sambil jerit-jerit, naik turun furnitur, dan akhirnya mengurung diri di dalam kamar terdekat. Cape

 

Saya ngga tau apakah ini sebuah phobia atau bukan, soalnya saya ngga merasa takut sama penampakan kucing itu sendiri. Menurut saya kucing tuh lucu banget. Kalo lagi jalan di mall yang ada petshopnya, saya suka ngelus-ngelus bulu kucing Angora superlucu yang mirip buntelan bulu (itu sih berani, soalnya kucingnya ada di dalem kandang). Tapi kalo ada indikasi si kucing ini agresif, seneng ngajak main, seneng loncat-loncat (yang kata pecinta kucing sih justru bagus), Lika malah takut. Dan kucing kampung scares me more than kucing 'mahal' yang gendut dan berbulu superbanyak (kayak Gizmo, kucingnya Bridget pacarnya Hugh Hefner ß I recommend you to buy the DVD: Girls Next Door). Malah waktu itu saya pernah ngobrol sama temen di kamarnya, dan di sebelah saya ada kucing-bulu-banyak lagi tidur, dan saya tenang-tenang aja. Mostly because the cat is sleeping.

 

Kondisi yang memperparah adalah banyak orang yang menganggap rasa takut ini lucu. Kadang teman-teman saya suka ngambil dan ngedeket-deketin kucing ke muka saya. Ofcourse I'd scream and run. And they think it's funny. Yang parah, kadang ada yang ngambil kucing dan nyimpen di pangkuan saya. Otomatis saya yang takut langsung berdiri dan lari. And they'd laugh for that. Yang saya takutkan setiap kejadian seperti itu bukan cuman rasa takut saya atau kutu kucing yang nempel di baju saya (saya pernah bentol-bentol karna kutu kucing, bekasnya ngga ilang sampe sekarang), tapi saya takut saat saya panik ketakutan, saya ngga sengaja nginjek si kucing. I'm scared of cats, but I don't wanna hurt them. But I guess the people who mocked me didn't really think of that..

 

Oyah, pacar saya, dalam salah satu usahanya untuk 'memulihkan rasa takut Lika pada kucing', juga beberapa kali menyimpan kucing di atas pangkuan saya. Apa yang terjadi? Tetep aja saya freak out, ngejerit (padahal lagi di tempat umum), dan tingkat rasa takut saya bertambah. Malah jadi trauma, karna kalo ada kucing, saya jadi takut teman atau pacar saya melakukan hal itu lagi. Sekali waktu saya pernah nangis ketakutan.. tepatnya mengeluarkan air mata karna ketakutan, tapi saya sembunyikan because other people think they're making a good joke. So I just pretend to laugh..

 

Saya sendiri sampe sekarang ngga tau kenapa saya takut kucing. Yang saya ingat samar-samar adalah peristiwa ketika saya masih berumur 3 taun dan melihat seekor kucing kampung di halaman rumah saya. Naturally, anak kecil pasti suka kucing. Saya pun dulu begitu. Saya deketin si kucing, saya elus-elus, tapi si kucing malah ngegigit jari saya. Dan sialnya, gigi kucingnya tajem. Jari saya pun berdarah.

 

Apakah karna itu saya jadi takut sama kucing, atau ada hal lain? I really don't know. But I know some things for sure, that this fear is real. You can make a joke about it, atau nakut-nakutin saya pake kucing, but that's it. Cukup nakut-nakutin aja, ngga usah beneran naro kucing di pangkuan saya, di punggung saya, atau di dalem tas saya. That's funny for you guys, but  horrifying for me. And clearly, those things will NEVER gonna cure my fear.

 

Jadi, biarlah.. Apakah dunia ini rugi kalo seorang Lika takut kucing? Dan saya ngga sendirian kok, saya kenal at least 4 orang lainnya, termasuk ibu yang satu ini, yang takut kucing juga.

So let me and the cats go our own separate ways. =)

 




likamaniz @ 07:07 pm
Comments (13)
Monday, September 04, 2006
The Long and Winding Road That Leads To Their Wedding


Ceritanya, Ahad (3/9) lalu seorang teman menikah. Saya dan beberapa teman lainnya memang sudah lama menunggu peristiwa ini terjadi (peristiwa.. gunung meletus kalee), karena si doski memang pacarannya udah lama, dan gosip-gosip dia mau nikah udah ada sejak taun lalu. Dan meskipun undangan kawinannya ngga pernah sampe rumah saya (salah alamat kayaknya, dod!), tapi karena dia termasuk teman saya yang cukup akrab, akhirnya kemarin saya dan teman-teman berangkat juga ke resepsinya. Di Cirebon.

 

That’s it?

Oh no no.. karena ini bukan road trip biasa. Untuk sekedar menyaksikan seorang sahabat mengucapkan ijab kabul, ternyata sangat panjang dan berliku-liku jalan yang harus kami lalui. Hiks hiks.

 

Satu minggu sebelum hari H (harusnya hari M ya, kan hari Minggu), saya udah nyarter mobil ke salah satu rent car di bilangan buah batu. Suzuki APV, karena rencananya kami akan berangkat berdelapan. Tapi semakin hari, peserta semakin berguguran. Ibu Qudsy ngga dapet izin libur, jadi pacarnya pun batal ikut. Ibu Astrid mendadak ada tugas liputan. Bapak Cahoy baru pulang dari Lampung dan masih tepar. Yang tersisa hanya akyu, Ibu Devi, Ibu Sita, dan Bapak Eko.

 

Hari H minus 1 ada acara indie di rooftop Bandung Trade Center, dan untuk keperluan majalah, saya harus datang ke sana (pengen nonton juga sih sebenernya). Acara beres jam 11 malam, sampai rumah Sita jam 12, ngobrol ngalor ngidul, baru tidur jam 2 pagi. Jam 3.30 dini hari, kami para wanitah udah bangun lagi (mandi dan ngeblow rambut dong bo!).

 

Jam 5 subuh udah duduk manis di ruang tamu, menunggu mobil carteran beserta sopirnya datang menjemput.

 

Jam 5.30 masih  nunggu di ruang tamu..

 

Jam 6 pagi masih di ruang tamu. Nelfon kantor rent car nya ngga ada yang ngangkat.

 

Jam 6.30 masih di ruang tamu. Sita tidur lagi di sofa.. Coba nelepon lagi, tetep ngga diangkat.

 

Jam 6.45 mulai panik. Eko nelepon adiknya, minjem mobil.

 

Jam 7  Eko dan Sita cabut ke rumah Eko, ngambil mobil.

Lika dan Devi tidur lagi..

 

Jam 8 Eko dan Sita dateng membawa mobil adiknya Eko.

Sebenernya memang mobil ini available dari kemaren. Masalahnya, mobil civic nova ini super ceper!! (adeknya Eko sepertinya anak gaul gitu ya.. hehe). Apalagi dibawa perjalanan jauh yang jalanannya ngga melulu mulus. Jadilah sepanjang jalan terdengar suara-suara bagian bawah mobil membentur polisi tidur atau aspal dan bebatuan di jalan. Hukss.. mengiris hati..

 

Sebenernya kita agak kecewa karena niatnya pengen liat akad nikah. Buat saya sendiri, this is the 1st time temen yang nikah adalah cowok. Yang ijab kabul. Sebelumnya temen-temen saya yang nikah cewek semua. Lagipula, ijab kabul kan bagian paling khidmat dari upacara pernikahan, and we don’t wanna miss that. Tapi apa boleh buat. Gara-gara mobil rental entah kemana, harusnya kita berangkat jam 5 malah jadi jam 8. Padahal akadnya jam 9. Masa kita mau sms, “Dod! Jangan mulai dulu sebelom kita dateng!”

 

Setelah mobil meluncur, perjalanan ngga lantas jadi lancar.

Jam 9.30, saat melintasi Sumedang, ban mobil kempes. Untung ngga jauh dari situ ada tukang tambal ban. Tapi ban serep yang ada di mobil pun ternyata bocor. Jadilah kita nongkrong di depan tambal ban sambil nunggu si mamang benerin ban di bengkel lain (dia ngga punya peralatan buat tubeless, atau apalah ngga ngerti, jadi harus dibawa ke bengkel laen)

 

Jam 10.15 akhirnya bisa jalan lagi. Tapi ngga lama, karena..

 

… jam 11.30 – nya distop polisi. Masalahnya ngga terlalu ribet sebenernya, cuman misinformation aja, tapi karna polisinya nyolot banget dan kitanya ngga mau kalah (emang kita ngga salah-salah banget kok), akhirnya jadi agak panjang urusannya. Untunglah Ibu Sita ini anak polisi. Huhu. Ngga jadi ditilang deh..

 

Jam 12.30 akhirnyaaaa… sampai juga di lokasi. Ganti baju, benerin rambut yang udah lusuh dan berminyak, dan dandan (yang mana susah banget karna baru ngulas bedak, sedetik kemudian udah keringetan lagi). Pas kita mau masuk gedung, bapak ini dan teman-temannya malah cabut. Huuu payah.. belom sempet gosip ria dan foto-foto nih bos! Ngga afdol! Huhu.

 

Jam 12.45 nah itu dia, pengantin pria berwajah ganteng berbibir pucat (gamau dipakein lipgloss sih..) dan pengantin perempuan berparas khas wanita Jawa tapi sensual (halah..) dalam busana penganten Jawa warna hitam.

 

Say hi, salaman, cupika-cupiki, ngobrol bentar, makan.

 

Kalo dipikir-pikir,, ‘Waduh, ribet dari jauh-jauh hari dan perjalanan penuh cobaan (huhu), cuman buat ini?’

But it was really worth it.

Seeing the sparks on their eyes, the smile on their happy faces, the dodi in the baju penganten jawa.. Hehueheu..

 

Menyenangkan. Sering-sering aja ya, dod! (eh JANGAN deng! Sekali aja ya!!)

Semoga awet sampe kakek nenek, punya 8 anak dan 27 cucu.

 

Unpredictable things always happen anytime, in any condition..

..but now you have her to live those unpredictable life together.

 

 

Dan seperti biasa, oleh-oleh berupa foto!!!

Enjoy..

 

Foto bersama mempelai. Aih aiiihh..

Ki-ka: Devi, Sita, pak ibnu, bu dewi, dan selebritis masa kini. =p

 

 

Kalian ih.. kayak hiasan penganten jawa yang ada di puncak kue pengantin. Huhu

 

Berpose setelah makan gratis. huhu. Sita, Lika, Devi manyun 

 

Nyolong aer dari klinik sebelah gedung kawinan. Haus sih! Huhu. Maap ya bu dokter. Semoga dapet pahala memberi minum musafir. Heuheu

 

 

Pulangnya mampir dulu di saung kelapa muda di Sumedang. Minum es kelapa muda langsung dari batoknya sambil memandangi sungai… ngga tau sungai apaan. Huhu.

 

Sita dan Eko, pasangan muda yang penuh gejolak cinta. (??)

 

Devi berasa foto model.

 

Lika.. teuteup eksis. Hihi.

 

 

 

 




likamaniz @ 11:39 am
Comments (9)
Friday, August 25, 2006
You want more? We give you ENCORE


- Interview with THE S.I.G.I.T, Sore, and EDSON
- Pelajaran Fashion dari Sari (White Shoes and The Couples Company)
- Musicology with Dinna (Homogenic)
- Eloquent with Soleh Solihun
- Album review Howling Bells & Secret Machine
- Event review Thursday Riot, LA L*ghts Indiefest, Fixxion, etc.
- A huge close up cover image of Rekti (The S.I.G.I.T) Hehe

Semuanya bisa didapatkan hanya dengan menukar selembar uang Rp 10 ribu kamu dengan majalah ini:

ENCORE
The Very 1st Edition

Bisa dibeli di distro-distro terdekat di sekitar Bandung Raya, dan di event-event musik

Please support your local independent media movement (nyontek slogannya commonroom. huhu)




likamaniz @ 01:20 pm
Comments (4)
Friday, August 04, 2006
Kapitalisasi Distro


Ingatkah Anda pada masa dimana harga baju-baju di distro cuman 35 rebu perak?

Sebagai manusia yang INGIN selalu up-to-date, jaman-jamannya distro lagi marak (sekitar 5-6 taun yang lalu kalo ngga salah), saya ikut-ikutan juga belanja di distro. Waktu itu factory outlet dan butik udah ngga asik lagi karna harganya makin mahal dan barangnya pasaran.

Thank God ada distro. Selain barangnya murah-murah, bajunya juga ngga macem-macem. Hampir semua atasannya modelnya T-Shirt biasa. Yang beda cuman warna ama design gambarnya. Ngga pasaran pula. Kadang-kadang 1 desain kaos cuman dicetak 1-2 orang.

Dan yang paling menyenangkan dari keberadaan distro adalah harganya yang bersahabat. Kalo diliat dari asal muasal distro, terutama di bandung, mereka berangkat dari filosofi D.I.Y (Do It Yerself) alias indie. Cari duit sendiri tanpa jadi bagian dari suatu sistem so-called-kapitali semacam department store or butik, sekaligus sarana promosi band dan jualan merchandise band.

Lama kelamaan, 'fashion a la distro' jadi suatu keharusan. Dimana-mana, at least di bandung, para perempuan pake T-Shirt keluaran distro. Sepatu converse atau sneakers. Beads di leher. Pada zaman itu (halah, kesannya zaman purbakala), dikenal istilah "anak distro" dan ungkapan seperti "ceweknya dandanannya distro bgt deh!"

Sejak itulah muncul banyak distro baru. Desainnya diperkaya, ngga cuman T-Shirt biasa yang print-nya beda-beda doang, tapi juga baju model lain. Karna kebutuhan meningkat, produksi diperbanyak. Mass production. Jadilah baju distro sama pasarannya dengan baju-baju di Kings Shopping Center (which, btw, is still one of my fave place to shop. hehe).

Saya masih inget T-Shirt pink muda bertulisan Ouval yang waktu itu ngetrend bgt dan banyak bgt yg pake. Kamu keliling bandung sehari aja bisa nemu 4 cewe yg pake baju itu (mungkin ya. ngga pernah nyoba ngitung juga sih).

Dan karna permintaan meningkat pula, harga barang-barangnya jadi naik. Kalo dulu sekali ke distro bisa belanja 3 baju (cuman 35 rebu men! 50 rebu juga udah termasuk mahal), sekarang dengan uang 100 rebu cuman 1 yg bisa kebeli (plus kembalian buat ongkos pulang).

Belom lagi banyak 'distro' baru yg sebenernya sih lebih pantes disebut butik (karna harga barangnya rata-rata di atas 100 ribu) tapi tokonya kecil, penjaga tokonya anak muda gawul, jadi sah-sah aja menyebut dirinya 'distro'. Gitu kali ya. Malah saya pernah nemu satu toko baju kecil tapi bagus -- menjurus ke mewah, di papan namanya tertulis 'DISTRO ANU' trus yang jaganya ibu-ibu. Yang dijualnya gaun-gaun, tank top, dsb dll dgn harga yang bikin sakit ati. Curiganya dia sebenernya mo bikin butik kecil, tp karna distro sedang happening, jadilah nama 'butik' nya diganti dengan 'distro'. Lagian dipikir2, bukannya aneh ya kalo sebuah distro memajang embel-embel 'distro' di depan/belakang namanya?

Sekarang saya jarang belanja di distro. Selain udah pensiun nongkrong di distro, juga karna mengalami shock-lemari-baju beberapa tahun yg lalu, ketika membuka lemari baju dan baru menyadari bahwa isinya T-Shirt semua. Juga karna baju-baju distro, meskipun sekarang modelnya lucu-lucu, harganya berkali lipat yang dulu.

Padahal klo kita bikin kaos massal di distro, misalnya buat kaos kelas, harganya cuman 22ribu-30ribu perkaos. Itu tuh mereka udah ngambil untung kan? Jaman dulu mungkin ongkos produksinya sedikit lebih murah. Tapi mereka sepertinya cukup puas dengan ngejual cuman seharga 35 ribu.

Sekarang mana ada?!?!
Apakah para pengusaha distro yg notabene anak-anak muda yg harusnya ngerti gimana kondisi kocek remaja-remaja di Indonesia (kecuali anak pejabat) itu udah lupa kenapa dulu mereka bikin distro? (Kheuseus pengusaha distro 'pelopor' ya, bukan pengusaha distro 'lagi musim nih, bikin distro yuk!')

Yah ... namanya juga manusia sih..
Susah kalo udah ngerasain duit.




likamaniz @ 01:58 am
Comments (16)
Monday, July 10, 2006
Italia, Ti Amare Sempre


Tuh kan.

Lika  bilang juga Itali yang bakalan jadi juara dunia.

Heran deh orang2 suka pada underestimate gitu.

Just because the players have a pretty faces, doesn’t mean they don’t have the skill.

 

Yang Lika lebih sebel lagi, kalo ada yg nanya sama Lika, “Jagoin tim mana?” dan Lika jawab Itali, pasti ada aja yg responnya, “Cewek mah rata2 jagoinnya Itali yah. Atau Inggris, soalnya ada Beckham.”

 

AAAARRRGGHHHH!!!!!!

Kenapa menggeneralisasi semua perempuan ngejagoin tim yg ada pemaen gantengnya??? Ya memang kebanyakan cewek kayak gitu tapi kan ngga semua. Oke lah Itali emang pemainnya ganteng2, tapi emang salah mereka? Salah gue? Salah temen2 gue? Orang Itali kan physically emang kayak gitu tipenya, tipe yg biasa orang lain kategorikan sebagai macho, ganteng, dsb. Bukan cuman pemaen bolanya aja, kayaknya seluruh cowok Itali emang kayak gitu semua.

 

Dan gara2 itu di dunia sepakbola banyak yg ngeremehin mereka. Padahal mereka ada di peringkat 13 versi FIFA and climbing up. Padahal, suka atau ngga, pertahanan mereka paling kuat dibanding tim lain. Seluruh striker yang mereka bawa ke Timnas berhasil nyetak gol (bahkan para cadangannya sekalipun). Gol-gol tim ini juga bukan cuman dicetak oleh striker tapi juga oleh pemain dari semua lini (kecuali kiper kali yee). Selama piala dunia taun ini juga mereka baru kebobolan pas pertandingan final, oleh penaltinya Zidane. (Waktu lawan Amerika emang kebobolan sekali, tapi kan gol bunuh diri.) Mereka juga punya pemain yang kualitasnya jauh di atas rata2: Buffon misalnya (klo kipernya bukan dia entah apa jadinya), Cannavaro the captain, dst dsb dkk.

 

Banyak yg ngga suka sama Itali karna permainannya kurang indah karna defensif banget. Atau karna maennya licik, banyak pemain yang jago diving. But hey, it’s they’re style. Lagian diving kan bagian dari ‘teknik’ permainan. Hihi.

 

Tapi kata Lika sih kunci kemenangan Itali di WC ’06 ini adalah Fabio Grosso. Dia yg diving di kotak penalti Australia pas menit terakhir perempat final yang bikin Itali dihadiahi tendangan penalti, dia yang nyetak gol kemenangan ke gawang Jerman waktu semifinal, dan dia eksekutor penalti yang menentukan kemenangan Itali di final.

 

Selain itu, kayaknya si Italy emang luck-nya gede banget sih. Huhu. Tapi baik buruknya tim Itali saya akan selalu mendukung, seperti para bobotoh tetap mendukung Persib sejak Persib juara liga sampai sekarang nyaris degradasi. Kalo bisa punya 2 kewarganegaraan kayanya Lika mau jadi warga negara Itali juga, trus pindah kesana trus jadi mafia atau kawin sama anak Don atau sama consigliere. Dor dor!! Heuheuheu. Enak juga kayaknya jadi mafia ya.  *sudah mulai melenceng dari topik pembicaraan*

 

 

PS:

Gimana? Lika dah cocok jadi komentator sepak bola belom nih? Huhu.




likamaniz @ 03:13 pm
Comments (12)
Sunday, July 02, 2006
A Longer Distance Relationship


Setelah 'latihan' pacaran jarak jauh Jakarta-Bandung selama 1 tahun, akhirnya masa ujian pun tiba: pacaran jarak jauh Pematang Siantar-Bandung selama kurang lebih 3 tahun.

 

Pacar saya, sama seperti Bapak Penghuni Pulau Tarakan ini, adalah seorang ODP di salah satu Bank yang namanya tidak usah disebutkan di sini tapi sebut saja Bank Mandiri. Setelah masa satu taun training, si doi dilantik dan ditempatkan di Pematang Siantar, Sumatra Utara. Lika sih udah nyiapin dari jauh-jauh hari, prepare for the worst. Ya siap-siap aja sapa tau dia ditempatin di Jayapura atau Merauke gitu. Untunglah cuma di Sumatra. Masih deket lah yah..

 

Dan untung juga kemaren dia setaun di Jakarta, jadi kita udah biasa long distance relationship. Bedanya mungkin sekarang dia ngga bisa pulang seminggu sekali. Yang ada setaun sekali, Lebaran doang (berat ongkos bos!). Hhhh.. taun pertama pacaran tiap hari ketemu. Taun kedua seminggu atau 2 minggu sekali. Taun ketiga setaun sekali. Nasiiib.. nasibbb.. Tapi tak apeu lah, demi masa depan yang lebih baik, melayani dengan hati menuju yang terbaik. (korban iklan)

 

  Kekerasan dalam rumah tangga. Heuheu

 

Anywaaayyy…

Saya senang sekali Brazil tadi pagi kalah sama Prancis. Soalnya, duh.. klo Brazil  menang terus atau lolos ke final terus mah mending ga usah ikutan Piala Dunia lagi deh. Buat apa diadain Piala Dunia klo finalnya udah pasti ada Brazil. Tapi mudah-mudahan jangan Jerman juga yg juara. Sangat tipikal banget klo tuan rumah yg menang. Pengennya mah Ghana atau Korsel gitu..tapi mereka sudah pulang. Hiks. Go Itali!!! You are my last hope!




likamaniz @ 03:29 pm
Comments (12)
Friday, June 23, 2006
Cinta Lama Bersemi Kembali


The story begins at the year of 1998, pada suatu malam ketika seorang lelaki dari negeri seberang berhasil memikat dan menjerat hatiku (cieee..)

 

Saya yang sejak Piala Dunia 1994 jadi penggemar sepakbola, pada suatu malam nonton pertandingan Liga Serie A. Juventus versus entah siapa lupa lagi. Di pertandingan itu ada seorang striker Juventus yang menyebalkan. Sering pura-pura ‘dijatohin’ di kotak penalti. Kesenggol dikit ama pemaen lawan langsung jatohnya didramatisir supaya keliatan kayak pelanggaran. Sering offside pula. Tapi malam itu si striker menyebalkan mencetak hattrick.

 

Filippo Inzaghi aka Pippo. Media massa saat itu memberinya julukan Super Pippo, dan bersama tandemnya, Alessandro del Piero, mereka dijuluki Del-Pippo. Sejak malam itu saya ngga pernah sekalipun melewatkan pertandingan-pertandingan Juventus di ajang apa pun, jam berapa pun. Saya jadi penggemar fanatik Juve dan Pippo. Sayalah yang bertugas ngebangunin adik dan ayah saya setiap ada pertandingan tengah malam atau dini hari, meskipun biasanya akhirnya saya cuma nonton sendirian karna yg laen baru berhasil ngumpulin nyawa pas babak dua.

 

   

Saya jadi terobsesi dengan Juventus dan Pippo. Dan otomatis juga tim nasional Italia. Seluruh temen sekelas saya di SMP dan SMA tau. Saya jadi tempat mereka nanya jadwal dan skor pertandingan. Saya jadi objek ‘kesian deh lu’ setiap Juve atau timnas Itali kalah bertanding. Saya frustrasi seharian setiap mereka ngga lolos pertandingan penting (Piala Champion, Juara Liga, Copa, World Cup, terutama Euro 2000 waktu Itali dikalahin Perancis oleh satu gol sudden death-nya Thierry Henry, satu menit sebelum peluit. Aaargghh!!) Saya juga jadi objek ‘selamat yee’ klo Juve dan timnas Itali menang, terutama kalo Inzaghi nyetak gol. Di buku kenangan kelas 3 SMP, saya dikasih julukan ‘Lika, The Queen of Ball’. (maksudnya queen of football kali yee).

 

Kamar saya penuh poster pemain bola, dan ada 9 poster yang bergambar Inzaghi. Saya punya buku tebel berisi kliping pemain bola dan club favorit saya. Yang paling banyak tentunya gambar Inzaghi. Saya punya foto asli Inzaghi yang saya beli di pameran Bola. Saya bikin account email @juventusfan.com. Saya bahkan sempet beli kamus bahasa itali, kamus percakapan bahasa itali, dan buku Mahir Bahasa Italia dalam Seminggu (ngga semua yg lo baca itu bener).

 

Saya belajar bahasa itali secara otodidak dengan harapan klo suatu saat bisa ke Itali dan nonton bola langsung dan ketemu Inzaghi, saya bisa mengucapkan sepatah dua patah kata. (Kebanyakan org Itali ngga bisa bahasa Inggris. Waktu itu kata media massa cuman Vieri yang mahir bahasa inggris). Saya pengen banget jadi wartawan tabloid Bola, menggantikan Rayana Djakasuria yang jadi koresponden di Itali, dengan harapan bisa wawancara Inzaghi. Saya tergila-gila sama Inzaghi.

 

Sampai pada suatu hari di tahun 2001 atau 2002… Waktu itu Juve dipegang pelatih Carlo Ancelotti (menggantikan my alltime favorite coach Marcello Lippi). Ancelotti pindah ke AC Milan dengan membawa serta striker favoritnya: Filippo Inzaghi. Sejak saat itulah saya mengalami dilema berat (gak segitunya juga kali lik..). Saya bingung, kalo ada pertandingan Juve vs AC Milan, tim mana yg harus saya jagoin? Saya cinta Juve, tapi saya juga cinta Pippo. Tapi Pippo ada di Milan. Klo Juve menang, Pippo kalah. Kalo Milan menang, Pippo senang, Juve kalah. Aarrghh!! It’s too frustrating!! Akhirnya saya pun berhenti nonton bola sama sekali selama 3 taun. (alasan yang bodoh, bukan?)

 

Baru Piala Dunia sekarang saya mulai berdamai dengan dilema bodoh itu. Saya tetep jagoin Itali. Plus Korea Selatan. Saya nonton hampir semua pertandingan yg ‘masih sore’. Tapi dua pertandingan awal Itali ngga saya tonton (jam 2 pagi bo! Saya masih belum sefanatik dulu) Malam ini saya akhirnya nonton Itali lagi. Inzaghi, yang sekarang umurnya udah 30 taun masih masuk timnas, tapi jadi pemain cadangan. Dan ngga mengecewakan, karna setelah diturunkan di babak 2 dia berhasil bikin peluang gol 2 kali, dan akhirnya mencetak satu gol.

 

Menyenangkan sekali.. Looking at all those familiar faces, dengan papih Lippi di pinggir lapangan. Inzaghi dengan bibir manyunnya (yang tambah manyun karna pernah robek dan dijait taun 2000an, dan sempet pake penahan bibir yang superkonyol.) masih sama seperti dulu. Dan perasaan bangga itu,, setiap kali dia mencetak gol. Padahal siapa gue gitu loh, dia yg ngegolin kok lika yg bangga. Huhu.

 

Saya memang udah ngga se-tergila-gila dulu lagi sama Inzaghi.. Tapi sepertinya di alam bawah sadar saya masih ada fanatisme itu. Tadi malem nonton Inzaghi rasanya seperti jaman highschool all over again. Seperti CLBK. Cinta Lama Bersemi Kembali (atau Celana Lama Basah Kembali?)

 

Yang jelas, sampai puluhan taun lagi, bahkan mungkin setelah dia mati pun, sepertinya Filippo Inzaghi masih akan menjadi bagian penting dalam hidup Lika, untuk alasan teknis yang tidak bisa saya sebutkan di sini. Hihi.

 




likamaniz @ 10:39 pm
Comments (11)
Monday, May 29, 2006
Tribute To Radiohead


Pilihlah jawaban yang paling cocok dengan kamu (jawaban boleh lebih dari satu).

Kamu adalah....
a. Penggemar Radiohead
b. Bukan penggemar Radiohead tapi suka lagu-lagunya
c. Pengen nonton konser Radiohead tapi ga punya duit
d. Punya pacar yang seneng Radiohead
e. Lagi ngegebet anak Bandung yg ngefans ama Radiohead
f. Seorang wanita yang menggemari lelaki-lelaki british-look
g.  Seseorang yang bingung hari Jumat ini mo kemana ya?
h. Pengen ketemu sama Lika
i. Semua benar

Well, kalo salah satu pilihan di atas ada yang cocok sama kamu, then you should come to this gig:

Tribute to RADIOHEAD
Jumat, 2 Juni 2006
19.00 sampai beres
@ Planet Biz Cafe (Sky FM) Jl. Diponegoro Bandung
Featuring: The One's -- Polyester Embassy -- Olive Tree -- Seath -- etc.

Dateng yaaa rame-rame..!
Ajak semua temen kamu. Ntar Lika kasih tanda tangan semuanya.
Ciii.. luuk.. baa..
MMMmmuaaahh!

 

 




likamaniz @ 10:43 am
Comments (9)
Don't buy Vista Security
Next Page
About Me


likamaniz
April 18th 1984  (Age 25)
Female
Bandung
Calendar
<< December 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31

Tagboard
Links
Contact Me
If you want to be updated on this weblog Enter your email here:
Credits
Picture: Stock.xchg
Layout: Marianne

BLOGDRIVE
TEMPLATES
Marianne - A slice of lemon

Blogdrive