- Interview with THE S.I.G.I.T, Sore, and EDSON
- Pelajaran Fashion dari Sari (White Shoes and The Couples Company)
- Musicology with Dinna (Homogenic)
- Eloquent with Soleh Solihun
- Album review Howling Bells & Secret Machine
- Event review Thursday Riot, LA L*ghts Indiefest, Fixxion, etc.
- A huge close up cover image of Rekti (The S.I.G.I.T) Hehe
Semuanya bisa didapatkan hanya dengan menukar selembar uang Rp 10 ribu kamu dengan majalah ini:

ENCORE
The Very 1st Edition
Bisa dibeli di distro-distro terdekat di sekitar Bandung Raya, dan di event-event musik
Please support your local independent media movement (nyontek slogannya commonroom. huhu)
Ingatkah Anda pada masa dimana harga baju-baju di distro cuman 35 rebu perak?
Sebagai manusia yang INGIN selalu up-to-date, jaman-jamannya distro lagi marak (sekitar 5-6 taun yang lalu kalo ngga salah), saya ikut-ikutan juga belanja di distro. Waktu itu factory outlet dan butik udah ngga asik lagi karna harganya makin mahal dan barangnya pasaran.
Thank God ada distro. Selain barangnya murah-murah, bajunya juga ngga macem-macem. Hampir semua atasannya modelnya T-Shirt biasa. Yang beda cuman warna ama design gambarnya. Ngga pasaran pula. Kadang-kadang 1 desain kaos cuman dicetak 1-2 orang.
Dan yang paling menyenangkan dari keberadaan distro adalah harganya yang bersahabat. Kalo diliat dari asal muasal distro, terutama di bandung, mereka berangkat dari filosofi D.I.Y (Do It Yerself) alias indie. Cari duit sendiri tanpa jadi bagian dari suatu sistem so-called-kapitali semacam department store or butik, sekaligus sarana promosi band dan jualan merchandise band.
Lama kelamaan, 'fashion a la distro' jadi suatu keharusan. Dimana-mana, at least di bandung, para perempuan pake T-Shirt keluaran distro. Sepatu converse atau sneakers. Beads di leher. Pada zaman itu (halah, kesannya zaman purbakala), dikenal istilah "anak distro" dan ungkapan seperti "ceweknya dandanannya distro bgt deh!"
Sejak itulah muncul banyak distro baru. Desainnya diperkaya, ngga cuman T-Shirt biasa yang print-nya beda-beda doang, tapi juga baju model lain. Karna kebutuhan meningkat, produksi diperbanyak. Mass production. Jadilah baju distro sama pasarannya dengan baju-baju di Kings Shopping Center (which, btw, is still one of my fave place to shop. hehe).
Saya masih inget T-Shirt pink muda bertulisan Ouval yang waktu itu ngetrend bgt dan banyak bgt yg pake. Kamu keliling bandung sehari aja bisa nemu 4 cewe yg pake baju itu (mungkin ya. ngga pernah nyoba ngitung juga sih).
Dan karna permintaan meningkat pula, harga barang-barangnya jadi naik. Kalo dulu sekali ke distro bisa belanja 3 baju (cuman 35 rebu men! 50 rebu juga udah termasuk mahal), sekarang dengan uang 100 rebu cuman 1 yg bisa kebeli (plus kembalian buat ongkos pulang).
Belom lagi banyak 'distro' baru yg sebenernya sih lebih pantes disebut butik (karna harga barangnya rata-rata di atas 100 ribu) tapi tokonya kecil, penjaga tokonya anak muda gawul, jadi sah-sah aja menyebut dirinya 'distro'. Gitu kali ya. Malah saya pernah nemu satu toko baju kecil tapi bagus -- menjurus ke mewah, di papan namanya tertulis 'DISTRO ANU' trus yang jaganya ibu-ibu. Yang dijualnya gaun-gaun, tank top, dsb dll dgn harga yang bikin sakit ati. Curiganya dia sebenernya mo bikin butik kecil, tp karna distro sedang happening, jadilah nama 'butik' nya diganti dengan 'distro'. Lagian dipikir2, bukannya aneh ya kalo sebuah distro memajang embel-embel 'distro' di depan/belakang namanya?
Sekarang saya jarang belanja di distro. Selain udah pensiun nongkrong di distro, juga karna mengalami shock-lemari-baju beberapa tahun yg lalu, ketika membuka lemari baju dan baru menyadari bahwa isinya T-Shirt semua. Juga karna baju-baju distro, meskipun sekarang modelnya lucu-lucu, harganya berkali lipat yang dulu.
Padahal klo kita bikin kaos massal di distro, misalnya buat kaos kelas, harganya cuman 22ribu-30ribu perkaos. Itu tuh mereka udah ngambil untung kan? Jaman dulu mungkin ongkos produksinya sedikit lebih murah. Tapi mereka sepertinya cukup puas dengan ngejual cuman seharga 35 ribu.
Sekarang mana ada?!?!
Apakah para pengusaha distro yg notabene anak-anak muda yg harusnya ngerti gimana kondisi kocek remaja-remaja di Indonesia (kecuali anak pejabat) itu udah lupa kenapa dulu mereka bikin distro? (Kheuseus pengusaha distro 'pelopor' ya, bukan pengusaha distro 'lagi musim nih, bikin distro yuk!')
Yah ... namanya juga manusia sih..
Susah kalo udah ngerasain duit.
Tuh
Lika bilang juga Itali yang bakalan jadi juara dunia.
Heran deh orang2 suka pada underestimate gitu.
Just because the players have a pretty faces, doesn’t mean they don’t have the skill.
3062.jpg)
Yang Lika lebih sebel lagi, kalo ada yg nanya sama Lika, “Jagoin tim mana?” dan Lika jawab Itali, pasti ada aja yg responnya, “Cewek mah rata2 jagoinnya Itali yah. Atau Inggris, soalnya ada Beckham.”
AAAARRRGGHHHH!!!!!!
Kenapa menggeneralisasi semua perempuan ngejagoin tim yg ada pemaen gantengnya??? Ya memang kebanyakan cewek kayak gitu tapi
Dan gara2 itu di dunia sepakbola banyak yg ngeremehin mereka. Padahal mereka ada di peringkat 13 versi FIFA and climbing up. Padahal, suka atau ngga, pertahanan mereka paling kuat dibanding tim lain. Seluruh striker yang mereka bawa ke Timnas berhasil nyetak gol (bahkan para cadangannya sekalipun). Gol-gol tim ini juga bukan cuman dicetak oleh striker tapi juga oleh pemain dari semua lini (kecuali kiper kali yee). Selama piala dunia taun ini juga mereka baru kebobolan pas pertandingan final, oleh penaltinya Zidane. (Waktu lawan Amerika emang kebobolan sekali, tapi
Banyak yg ngga suka sama Itali karna permainannya kurang indah karna defensif banget. Atau karna maennya licik, banyak pemain yang jago diving. But hey, it’s they’re style. Lagian diving
Tapi kata Lika sih kunci kemenangan Itali di WC ’06 ini adalah Fabio Grosso. Dia yg diving di kotak penalti Australia pas menit terakhir perempat final yang bikin Itali dihadiahi tendangan penalti, dia yang nyetak gol kemenangan ke gawang Jerman waktu semifinal, dan dia eksekutor penalti yang menentukan kemenangan Itali di final.
Selain itu, kayaknya si

PS:
Gimana? Lika dah cocok jadi komentator sepak bola belom nih? Huhu.
Setelah 'latihan' pacaran jarak jauh Jakarta-Bandung selama 1 tahun, akhirnya masa ujian pun tiba: pacaran jarak jauh Pematang Siantar-Bandung selama kurang lebih 3 tahun.
Pacar saya, sama seperti Bapak Penghuni Pulau Tarakan ini, adalah seorang ODP di salah satu Bank yang namanya tidak usah disebutkan di sini tapi sebut saja Bank Mandiri. Setelah masa satu taun training, si doi dilantik dan ditempatkan di Pematang Siantar, Sumatra Utara. Lika sih udah nyiapin dari jauh-jauh hari, prepare for the worst. Ya siap-siap aja sapa tau dia ditempatin di Jayapura atau Merauke gitu. Untunglah cuma di
Dan untung juga kemaren dia setaun di
Kekerasan dalam rumah tangga. Heuheu
Anywaaayyy…
Saya senang sekali
The story begins at the year of 1998, pada suatu malam ketika seorang lelaki dari negeri seberang berhasil memikat dan menjerat hatiku (cieee..)
Saya yang sejak Piala Dunia 1994 jadi penggemar sepakbola, pada suatu malam nonton pertandingan Liga Serie A. Juventus versus entah siapa lupa lagi. Di pertandingan itu ada seorang striker Juventus yang menyebalkan. Sering pura-pura ‘dijatohin’ di kotak penalti. Kesenggol dikit ama pemaen lawan langsung jatohnya didramatisir supaya keliatan kayak pelanggaran. Sering offside pula. Tapi malam itu si striker menyebalkan mencetak hattrick.
Filippo Inzaghi aka Pippo. Media

Saya jadi terobsesi dengan Juventus dan Pippo. Dan otomatis juga tim nasional Italia. Seluruh temen sekelas saya di SMP dan SMA tau. Saya jadi tempat mereka nanya jadwal dan skor pertandingan. Saya jadi objek ‘kesian deh lu’ setiap Juve atau timnas Itali kalah bertanding. Saya frustrasi seharian setiap mereka ngga lolos pertandingan penting (Piala Champion, Juara Liga, Copa, World Cup, terutama Euro 2000 waktu Itali dikalahin Perancis oleh satu gol sudden death-nya Thierry Henry, satu menit sebelum peluit. Aaargghh!!) Saya juga jadi objek ‘selamat yee’ klo Juve dan timnas Itali menang, terutama kalo Inzaghi nyetak gol. Di buku kenangan kelas 3 SMP, saya dikasih julukan ‘Lika, The Queen of Ball’. (maksudnya queen of football kali yee).
Kamar saya penuh poster pemain bola, dan ada 9 poster yang bergambar Inzaghi. Saya punya buku tebel berisi kliping pemain bola dan club favorit saya. Yang paling banyak tentunya gambar Inzaghi. Saya punya foto asli Inzaghi yang saya beli di pameran Bola. Saya bikin account email @juventusfan.com. Saya bahkan sempet beli kamus bahasa itali, kamus percakapan bahasa itali, dan buku Mahir Bahasa Italia dalam Seminggu (ngga semua yg lo baca itu bener).
Saya belajar bahasa itali secara otodidak dengan harapan klo suatu saat bisa ke Itali dan nonton bola langsung dan ketemu Inzaghi, saya bisa mengucapkan sepatah dua patah kata. (Kebanyakan org Itali ngga bisa bahasa Inggris. Waktu itu kata media
Sampai pada suatu hari di tahun 2001 atau 2002… Waktu itu Juve dipegang pelatih Carlo Ancelotti (menggantikan my alltime favorite coach Marcello Lippi). Ancelotti pindah ke AC Milan dengan membawa serta striker favoritnya: Filippo Inzaghi. Sejak saat itulah saya mengalami dilema berat (gak segitunya juga kali lik..). Saya bingung, kalo ada pertandingan Juve vs AC Milan, tim mana yg harus saya jagoin? Saya cinta Juve, tapi saya juga cinta Pippo. Tapi Pippo ada di
Baru Piala Dunia sekarang saya mulai berdamai dengan dilema bodoh itu. Saya tetep jagoin Itali. Plus
Menyenangkan sekali.. Looking at all those familiar faces, dengan papih Lippi di pinggir lapangan. Inzaghi dengan bibir manyunnya (yang tambah manyun karna pernah robek dan dijait taun 2000an, dan sempet pake penahan bibir yang superkonyol.) masih sama seperti dulu. Dan perasaan bangga itu,, setiap kali dia mencetak gol. Padahal siapa gue gitu loh, dia yg ngegolin kok lika yg bangga. Huhu.
Saya memang udah ngga se-tergila-gila dulu lagi sama Inzaghi.. Tapi sepertinya di alam bawah sadar saya masih ada fanatisme itu. Tadi malem nonton Inzaghi rasanya seperti jaman highschool all over again. Seperti CLBK. Cinta Lama Bersemi Kembali (atau Celana Lama Basah Kembali?)
Yang jelas, sampai puluhan taun lagi, bahkan mungkin setelah dia mati pun, sepertinya Filippo Inzaghi masih akan menjadi bagian penting dalam hidup Lika, untuk alasan teknis yang tidak bisa saya sebutkan di sini. Hihi.
Pilihlah jawaban yang paling cocok dengan kamu (jawaban boleh lebih dari satu).
Kamu adalah....
a. Penggemar Radiohead
b. Bukan penggemar Radiohead tapi suka lagu-lagunya
c. Pengen nonton konser Radiohead tapi ga punya duit
d. Punya pacar yang seneng Radiohead
e. Lagi ngegebet anak Bandung yg ngefans ama Radiohead
f. Seorang wanita yang menggemari lelaki-lelaki british-look
g. Seseorang yang bingung hari Jumat ini mo kemana ya?
h. Pengen ketemu sama Lika
i. Semua benar
Well, kalo salah satu pilihan di atas ada yang cocok sama kamu, then you should come to this gig:
Tribute to RADIOHEAD
Jumat, 2 Juni 2006
19.00 sampai beres
@ Planet Biz Cafe (Sky FM) Jl. Diponegoro Bandung
Featuring: The One's -- Polyester Embassy -- Olive Tree -- Seath -- etc.
Dateng yaaa rame-rame..!
Ajak semua temen kamu. Ntar Lika kasih tanda tangan semuanya.
Ciii.. luuk.. baa..
MMMmmuaaahh!
Kamis kemarin adalah akhir petualangan Lika berburu berita di rimba ibukota.. (halah!). Rasanya campur aduk.
Lega, akhirnya mata kuliah job training selesai. Ngga ada lagi kuliah yg nyisa. Tinggal berjuang ngerjain skripsi (tapi ntar aja lah, sekarang males-malesan dulu. heuhue)
Seneng, 2 bulan ini dapet pengalaman yang ngga kebayang sebelumnya. Phone book handphone isinya nambah puluhan nomer dari temen2 baru. Kesempatan kerja (mungkin) bakalan lebih gampang karna setidaknya mereka udah kenal dan tau kinerja Lika.
Sedih, ... hiks. I’m leaving Jakarta. The city that I hate so much because of the traffic jam yg bikin naek darah dan debunya yg bikin bronkhitis dan mataharinya yg bikin kulitku makin hitam dan hawanya yg bikin kelenjar minyak dan kelenjar keringatku bekerja berlebihan. But somehow I’m gonna miss it... Tidur di busway, desek-desekan di metromini (eh, ini sih gak bakalan kangen), dugem (duduk gemetar) di bajaj, terkagum-kagum liat pemandangan kanan-kiri penuh gedung tinggi-tinggi, memanjakan diri di mall-mallnya yg bikin ngiler, kedinginan setiap masuk ruangan (manusia yg ngga kuat AC ini dihadapkan pada kenyataan bahwa hampir seluruh ruangan di Jakarta ber-AC)
Satu bulan pertama amat sangat menyenangkan. Magang jadi reporter di salah satu stasiun TV swasta yang ada angka 7-nya. Berkantor di sebuah gedung yg bentuknya mirip sandwich di Jalan Sudirman. Menikmati perjalanan naek lift dari dan ke lantai 21 meskipun kuping suka tiba-tiba pengang. Seringkali ngantri lift bareng bule-bule bau keju yang kerja di kantor kedutaan entah negara apa dan kantornya entah di lantai berapa. Kemana-mana nenteng microphone berlabel TV itu dan setiap orang yg ditemui di jalan akan menyapa, ”Reporter ya Mbak?” Liat mayat, penjahat, polisi, pelacur, segala macem yg berbau kriminal. Kadang diajak jalan-jalan, shopping, sampe jogging di senayang memanfaatkan fasilitas mobil dan sopir kantor. Enjoying my job so much sampai-sampai meskipun Sabtu dan Minggu libur Lika suka ke kantor, ikut liputan sama yang lagi piket. Mata seger liat banyak wajah-wajah indah (perempuan dan laki-laki) di kantor. (Kameramen aja mesti ganteng kayaknya, klo mo kerja di sini). The atmosphere.. the people.. the work.. the romance..
Bulan kedua, what an experience. Magang jadi wartawan sebuah koran yang ukurannya compact (bedak kalee.. compact powder) yang ada majalahnya juga (tapi majalahnya lebih beken. Huhu) untuk pertama kalinya Lika ngerasain ngobrol sama orang-orang yang wajahnya biasanya cuman Lika liat di TV. Anggota DPR anu, politikus ini, mentri itu, segala pejabat dan orang tersohor lain yg jarang masuk infotainment. Liputan di gedung parlemen yang ruangan rapatnya lebih pantes disebut kulkas daripada ruangan (AC-nya nol derajat celcius ya??). Bertolak belakang sama bulan pertama, sekarang kemana-mana pake angkutan umum. Hasil: warna kulit 3 tingkat lebih hitam. Kali ini kantornya ngga sebesar yang di gedung sandwich. Tapi jadinya orang-orang di dalemnya lebih sering berinteraksi. Dan sampai sekarang Lika masih wondering.. wartawan-wartawan sini dikasih makan apa ya sama ortunya.. kok baek-baek banget? (Serius.. saking baiknya sampe Lika jadi suka ngedoain orang itu biar masuk surga. Huhu)
Hmm.. but now, here I am. Back to home sweet home. Di
Ngelamun..
Karna setelah masa jobtraining beres… what should I do?
Males-malesan kayak kemaren sepertinya sulit karna dimana-mana orang mulai nanya, “Kapan skripsi? Kapan lulus? Kerja di mana?” sampai “Kapan kawin?”
Saya mulai ngerasa tertinggal di titik di mana saya baru maju 2 meter sementara orang-orang lain udah 20 meter di depan saya. Tapi saya masih pengen males-malesan. Belum kepingin bangkit dan mengejar ketinggalan saya. Nanti deh, bentar lagi.
Seperti Jamie Cullum bilang:
I don't want to get up, just let me lie in
Leave me alone, I'm a twentysomething
I'm still having fun and I guess that's the key
I'm a twentysomething and I'll keep being me
Ada 2 penulis cerpen favorit Lika*) :
Sita Winiawati Dewi dan Devishanty
And one of them launched a novel.
Rangkuman dan Analisis Buku**)
Serenade - Devishanty

Analisis Bentuk
Buku ini tergolong tipis, cuma 179 halaman dgn ukuran font setara Arial 12 yang diketik 1,5 spasi (kira-kira doang loh). Lika sendiri baca novel ini mulai jam 11.00 dan selesai jam 13.00. Bahkan sempat baca ulang separo novel ini, gara2 mati gaya gak ada kerjaan. Heuheu
Tapi untunglah, karena fontnya bersahabat, mata jadi ngga cape melototin tulisannya berjam-jam. Jenis kertas yg dipake novel ini juga ringan, jadi kamu bisa bawa-bawa ni buku kemanapun tanpa merasa berat. Tapi dipikir-pikir ngapain juga bawa-bawa buku ini kemana-mana ya? Kalo udah beres baca mah simpen aja.
Satu lagi yg menarik dari novel ini adalah covernya. Bahannya bagus gitu, timbul dan shiny di bagian gambar dan judul. Tapi yg lebih bagus lagi adalah "model" covernya. Itu siapa ya? Heuehu
Analisis Isi
Seorang teman di kost-an saya, sebut saja "Ichanx" (nama sebenarnya), pernah bilang, "Novelnya cewek banget ya.." Saya setuju bangget sama doski. Saya yakin banyak perempuan di luar sana yang akan dengan mudah mengasosiasikan pengalaman Nada Anisa dengan pengalaman pribadi mereka masing-masing. Mungkin kejadian yg dialami ngga persis sama, tapi feeling and doubts yg dirasain kurang lebih emang seperti itu. That's the kind of feeling when you have to choose between someone you need and someone you want.
Dan devi menjabarkan feeling serta pikiran-pikiran Nada dengan akurat. Setau saya, memang itu yang ada di pikiran cewek saat mengalami situasi seperti itu. (Atau itu mah Lika doang ya? Huhu) Jalan cerita di novel ini juga masuk akal. Sangat real dan ngga jarang terjadi di dunia nyata. Ngga ada yg dibuat-buat dan ngga ada yg maksain.
Tapi kekuatan novel ini menurut Lika ada pada dialog. Semua dialog di novel ini mengalir dan natural banget. Kamu bisa dgn mudah ngebayangin tokoh-tokoh yang lagi ngobrol di novel itu seakan-akan lagi ngobrol di depan kamu. Meskipun kadang-kadang ada satu dua kalimat yang mendadak puitis romantis (ya wajar lah namanya juga kisah cintrong).
Penting loh, kenaturalan dialog. At least bwt Lika. Soalnya Lika pernah penasaran bgt tuh ama 'Chicklit Indonesia' gitu yg cukup terkenal dan udah terbit sekitar 4 seri (klo ga salah). Tapi Lika berenti baca setelah baru nyampe sekian belas halaman, cuma gara2 dialog di novel itu kaku banget!! Ngga mungkin bgt ada wanita karier usia muda yg tinggal di kota besar taun 2000an bicara pake bahasa kaya gitu! Ngga banget lah! Padahal banyak loh novel yang pake bahasa baku dan EYD yg baik dan benar, tapi dibacanya enak-enak aja, ngga kaku kesannya. Kenapa ya?
Anywaay.. Serenade ini ditutup dengan ending (ya iya lah, masa ditutup dengan opening) yang manis tapi ngga kemanisan kaya ending sinetron indonesia atau film hollywood atau dongeng ala live-happily-ever-after. Simpel aja, tapi bisa membuat saya tersenyum saat menutup novel ini (setelah sebelumnya terbelalak kaget melihat foto devi ukuran postcard di halaman paling belakang).
Yang agak ganjel adalah, sepertinya penggambaran chemistry antara Nada dan Mirza kurang kuat. Soalnya meskipun Nada bilang mereka berdua banyak bgt persamaannya, kenapa yang Lika tangkep dari sepanjang novel ini malah mereka sama sekali ngga nyambung ya?
Simpulan
Overall sih novel ini memuaskan. Meskipun sebagai fans devi (bohong deng), saya agak ngga terbiasa baca cerita devi yang ini. Biasanya dia klo bikin cerita suka beda bgt ama yg laen. Dark and gloomy gitu. Tapi bisa dipahami sih, secara ini novel perdana, pasti harus ngikutin pasar lah. Pokoknya novel ini bisa bikin cewek-cewek mikir "Iya nih bener.." atau "wah gue banget nih" pada beberapa bagian (atau itu mah Lika doang ya?), dan cowok2 juga bisa sedikit ngerti jalan pikiran cewek melalui novel ini. Karena wanita ingin dimengerti.***)
*) Selain Djenar Maesa Ayu, Ayu Utami, Tamara Geraldine, si Dodijuga akyu suka cerpen2nya.. Loh kok jadi banyak ya? Huhu
**) Ini format tugas kuliahnya Yth. Bapak Sahat Sahala. Barudak Jurnalistik Unpad pasti hafal. =p
***) Review ini tidak disponsori oleh S*ftex

Saya belum beli, tapi saya udah ngintip.
Belom sempet baca sih.. cuman liat-liat doang dan baca-baca dikit.
Semua teman saya, (semuanya laki-laki), berkomentar "Yah.. begini doang. Bagusan juga *** " <-- menyebut majalah lelaki 3 huruf yang franchise Amrik juga.
Tapi saya malah terkagum-kagum. Saya belum pernah baca Playboy Amerika, tapi saya bilang sih Playboy Indonesia ini bagus banget. Artikel-artikelnya menarik, berbobot, dan sama sekali ngga kacangan.
Saya tanya ke teman-teman saya yang kecewa itu, "Tapi kalo ini majalah yang sama sekali baru, bukan majalah Playboy, ini tergolong bagus kan isinya?"
Mereka setuju sih.
Bagi yg mengharapkan gambar-gambar seronok dan cewek-cewek bugil, pasti sedikit kecewa melihat Playboy Indonesia ini. Tapi ngga rugi kok beli Playboy, menurut saya. Banyak yang bisa dibaca.
Tadi saya ikutan wartawan-wartawan lain nongkrongin kantor Playboy. Katanya ada ormas Islam yg mau demo ke situ. Ternyata mereka cuman mau ketemuan sama chief editornya doang. Tapi yg bikin saya agak kesel, mereka tetep nuntut Playboy ditarik dari peredaran. Alasannya: gambar-gambar yang ditampilkan di majalah ini dapat merusak moral bangsa.
Omigod! Coba liat foto-foto di tabloid esek-esek di pinggir jalan! Dibandingkan itu, foto-foto di majalah Playboy jauuuuh lebih sopan. Bahkan majalah Cosmopolitan kadang-kadang fotonya bisa lebih 'terbuka'. Padahal Cosmo kan majalah perempuan.
Ah sudahlah.. cape hati mikirin ginian. Saya mau tidur aja ah.
*) Foto: detik.com
Tadi jam 17.00 WIB akhirnya I had my tooth extracted. Kaget juga karna niatnya ke dokter gigi cuman mau periksa dan bikin appointment kalo emang harus dioprasi. Taunya setelah dokternya liat hasil rontgen gigi Lika, beliau langsung bilang,
"Operasi aja yah! Sekarang."
Towewewew!!
Akhirnya aku berbaring dengan pasrah, gusiku disuntik oh sakit.. (this is my first time, karna Lika sebelumnya ga pernah cabut gigi di dokter), wajahku ditutup kain putih yang berlubang di bagian mulut, seluruh tubuhku berkeringat dingin sebagai reaksi otak yang terus mengulang-ulang kata "Operasi.. Pisau.. Darah.. Sakit.. Operasi.."
The whole process only took about 15 minutes, dan selama 15 menit itu Lika ngga ngerasain apa-apa (kecuali kesemutan di bibir dan lidah efek obat bius), ngga ngeliat apa-apa, but I heard sooo many things yang bikin tangan gemeteran terus.
"Srrtttt" oh sepertinya ujung scalpel mulai merobek gusiku.
"Krrrkkk.. tuk tuk tuk.. krrkkk.." gigiku diutak-atik.. kerasanya sih kaya diputer-puter pake tang.
"Krek..krek..krek.." suara gunting. Apa yang digunting? Gusi Lika digunting? Atau benang?
"Srrrttt…" kali ini suara benang ditarik dari dalam gusi, sepertinya.
"Krek..krek.." suara gunting lagi. Kepala jadi pusing mikirin apa yang dokter lakukan dengan gunting itu.
Gambar ini dari 32teethonline.com, bukan dokumentasi pribadi yaa.
Setelah itu Lika kumur-kumur (which is susah bgt!!), ngegigit perban di tempat bekas oprasi, and it's done!
Yang bikin Lika kaget adalah, ternyata yang diambil tuh bukan gigi yang posisinya tiduran (liat postingan sebelum ini), tapi gigi yang di rontgen terlihat 'normal'. Dan ternyata emang yg dari kemaren sakit tuh gigi yang itu, bukan gigi yg horizontal. Kata dokter seharusnya gigi horizontal itu juga diambil, tapi nanti aja kalo ada keluhan.
Mudah-mudahan ngga deh. Ngga banget kalo kudu kaya begini lagi. This is not the thing you want to experience more than once.
Sebelum pulang, tidak lupa pak dokter berpesan, "Nanti jangan kaget ya kalau efek biusnya udah ilang. Bakalan agak sakit."
Oh iya dok, ini udah ilang efek biusnya, dan entah kenapa ada kata 'agak' di depan kata 'sakit'. Huks! Untunglah ada Aulin 100mg, painkiller resep pak dokter yang mengurangi beban deritaku. Huhu. Bisa dipake tripping ngga yah? =p
Terimakasih dokter Alwin! =)
Terimakasih teman-teman yang sudah mendoakan dan berbagi pengalaman.
Terimakasih pacarku yang perhatian.
And thank God it all went well.
| Next Page |